Kamis, 10 November 2011

MENCARI FIGUR PAHLAWAN: DARI PERSONAL SAMPAI NASIONAL

“Olahraga adalah perang tanpa menembakkan senjata” (tulis John Naisbitt dalam bukunya Mind Set!, 2007, mengutip pernyataan George Orwell) seraya mengingatkan kita “bahwa China akan mendominasi olahraga global sebelum mereka mendominasi perekonomian global-jika itu terwujud.” Lanjutnya. Prediksinya terbukti, China tercatat sebagai peraih medali emas terbanyak pada Olimpiade Beijing 2008 lalu sekaligus menjadi negara dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di dunia sampai hari ini.

Seperti halnya kepemimpinan, kepahlawanan juga memiliki nilai universal, nasional, sekaligus personal. Setiap orang adalah pemimpin, minimal pemimpin bagi dirinya sendiri. Setiap orang adalah pahlawan, minimal pahlawan bagi dirinya sendiri. Setiap negara-bangsa, setiap bidang kehidupan, setiap pribadi memiliki figur panutan dan pujaan yang dianggapnya sebagai pahlawan.

Begitupun generasi muda di era kontemporer yang mungkin saja menemukan figur heroik dalam diri seorang atlet, seniman, pengusaha, aktivis, atau mungkin ikon-ikon budaya pop dan lain sebagainya yang menjadi idola sekaligus panutan dalam hidupnya. Gejala tersebut, menurut penulis, jauh lebih baik-selama mengarah kepada hasil-hasil yang positif dan konstruktif-daripada terjebak pada romantisisme heroik semata yang berujung pada acara-acara peringatan seremonial dan atau wacana retorik belaka.

Menghargai jasa-jasa dan mendukung upaya para pahlawan era kontemporer yang berjuang demi mengharumkan nama negara-bangsa di arena pertandingan sebagai atlet, mendidik anak-anak suku pedalaman di pelosok nusantara sebagai aktivis pendidikan, menjaga kelestarian lingkungan melawan kesewenangan korporasi global sebagai aktivis lingkungan, membela hak-hak perempuan dan kaum minoritas dan pejuang-pejuang di bidang lainnya tidaklah kalah penting dengan mengenang jasa-jasa para pahlawan pendahulu-mulai dari pahlawan pergerakan nasional, pahlawan kemerdekaan, pahlawan revolusi sampai pahlawan reformasi-yang cita-cita dan perjuangannya dilanjutkan oleh para pahlawan kontemporer kita yang saya sebut di atas.

Ditengah tingginya apatisme publik terhadap para pemimpin kita-baik pemimpin politik, agama maupun bisnis-semoga momentum hari pahlawan yang berdekatan dengan berlangsungnya perhelatan olahraga regional dua tahunan Se-Asia Tenggara, SEA GAMES ke-26 ini, bisa memompa semangat juang para atlet kita di semua cabang olahraga untuk mempersembahkan prestasi terbaiknya bagi Indonesia. Terlepas dari segala kekurangan kita sebagai tuan rumah dan berbagai kontroversi serta kasus terkait proses penyelenggaraannya, kelak para atlet kita yang berprestasi akan dikenang abadi sebagai pahlawan sejati dalam memori kolektif masyarakat kita. Ayo! Ayo! Indonesia Bisa! Amin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar