Kamis, 10 November 2011

Redefinisi nasionalisme melalui kepemimpinan generasi muda di bidang ekonomi kreatif :Generasi muda dan ekonomi kreatif

Kepemimpinan masa depan bukan lagi pada soal siapa, melainkan pada apa dan bagaimana bentuk kepemimpinan. Yang harus kita perhatikan bersama bukan lagi sekadar tokoh figure) atau pimpinan (leader) , tapi lebih kepada kepemimpinan (leadership).

Dalam konteks ekonomi, sehubungan dengan dicanangkannya Tahun Indonesia Kreatif 2009 oleh Presiden SBY, kita bisa melihat pemerintah mulai menunjukkan keseriusannya untuk mengembangkan ekonomi kreatif melalui industri kreatif, dimana subsektor industri kreatif yang berpotensi besar untuk dikembangkan adalah yang bersentuhan dengan seni dan budaya.

Industri kreatif ini sangat erat kaitannya dengan anak muda yang notabene adalah calon pemimpin masa depan, karena kalau kita perhatikan profil para pelaku industri kreatif sebagian besar adalah anak-anak muda.

Menurut John Howkins dalam The Creative Economy: How People Make Money From Ideas, ekonomi kreatif diartikan sebagai segala kegiatan ekonomi yang menjadikan kreativitas (kekayaan intelektual), budaya dan warisan budaya maupun lingkungan sebagai tumpuan masa depan. Sedangkan, industri kreatif adalah industri yang berbasis kreativitas, keterampilan, dan talenta yang memiliki potensi peningkatan kesejahteraan serta penciptaan lapangan kerja dengan menciptakan dan mengeksploitasi Hak Kekayaan Inteletual (HKI). Analoginya, ekonomi kreatif adalah rumahya, sedangkan industri kreatif adalah penghuninya.

Dengan memadukan ide, seni, budaya, dan teknologi diharapkan lahirnya generasi muda yang bukan hanya kreatif dan menguasai teknologi, tetapi juga sadar dan bangga akan kekayaan dan keanekaragaman seni dan budaya lokal kita. Sehingga akan muncul dalam diri generasi muda Indonesia nilai-nilai nasionalisme baru yang lebih segar, lebih kreatif dan lebih produktif. Buka sekadar jargon-jargon atau slogan-slogan kosong tanpa makna, apalagi bukti nyata berupa hasil karya.

Selama ini subsektor industri kreatif, terutama di bidang fashion, periklanan dan desain yang paling besar kontribusinya terhadap PDB sampai saat ini masih didominasi anak-anak muda dari kalangan kelas menengah ke atas yang punya akses ke jurusan desain, arsitektur dan periklanan di perguruan tinggi.

Untuk mewujudkan peran lebih aktif dan massif dari anak muda dalam ekonomi kreatif perlu adanya peran lebih besar pemerintah untuk menjamin pemerataan yang lebih luas di bidang pendidikan tinggi. Disamping itu, perlu juga adanya pergeseran paradigma masyarakat umum terhadap anak-anak muda yang memilih berkarir di bidang seni dan budaya, karena saat ini bidang-bidang tersebut juga punya peluang ekonomi di masa yang akan datang, seperti halnya bidang-bidang karir lainnya.

Dari IT-VERSITY menuju CREATIVERSITY

Pengembangan infrastruktur dan fasilitas ICT yang memadai, secara substansial tetap merupakan hanya sebagai enabler (pemberdaya), bukan merupakan tujuan penyelenggaraan pendidikan itu sendiri. Dan keberhasilan membangun infrastruktur dan fasilitas serta sistem pendidikan berbasis ICT yang diakui oleh dunia belum tentu berbanding lurus dengan kesuksesan menghasilkan lulusan perguruan tinggi yang mampu bersaing baik secara lokal, regional, maupun global.

Di samping itu, sampai saat ini saya belum menemukan hasil penelitian yang secara spesifik dan valid mampu membuktikan bahwa peningkatan fasilitas fisik dan non-fisik ICT bisa berdampak langsung terhadap peningkatan prestasi mahasiswa baik secara akademis maupun non-akademis.

Tetapi, mau tidak mau, suka tidak suka, diakui atau tidak, itulah yang terjadi di kampus kita tercinta ini, Universitas Gunadarma, hal ini tentu saja menjadi kegerahan, kegelisahan, sekaligus keprihatinan saya-mungkin juga beberapa mahasiswa lainnya dan juga dosen yang sepaham dengan saya-sebagai bagian dari keluarga besar civitas akademika Universitas Gunadarma tercinta ini.

Bahwa terbentuk GAP-TECH (Gap: jurang pemisah+Technology: teknologi), bukan GAPTEK (gagap teknologi), yang semakin lebar dan dalam sebagai dampak dari kemajuan di bidang pengembangan dan penerapan ICT, yang tidak diimbangi dengan pengembangan kualitas SDM yang mampu mengartikulasikan enabler tersebut untuk meningkatkan kompetensi, baik hardskill maupun softskill.

Di mana justru yang tercipta adalah jurang yang memisahkan antara keunggulan di bidang IT di satu sisi dan stagnasi di bidang Sumber Daya Manusia di sisi lain. Hal ini bisa dilihat dari fenomena masih banyaknya mahasiswa dan dosen yang belum memanfaatkan fasilitas ICT ini untuk meningkatkan prestasi akademisnya, atau setidaknya membantunya untuk menghasilkan karya-karya tulis maupun karya-karya kreatif lainnya yang berbasis IT.

Belum lagi masih banyak dosen yang menyampaikan kuliahnya atau mahasiswa yang menyampaikan presentasi makalahnya hanya dengan mengandalkan kapur tulis atau paling banter OHP, karena memang belum tersedia digital projector di setiap ruang kelas.

Keberhasilan Fakultas Sistem Informasi mendapat peringkat kedua berdasarkan pemeringkatan yang dilakukan PDAT (pusat data dan analisa tempo) pada tahun 2008 berdasarkan masing-masing fakultas di tiap PT baik swasta maupun negeri, hanya satu peringkat dibawah Universitas Bina Nusantara, memang patut diapreasi dan dibanggakan. Tambah lagi belum lama ini, Gunadarma berhasil meraih peringkat 5 secara nasional versi Webometrics Ranking of World Universities dan Peringkat 1.025 dunia. Akan tetapi, janganlah kemudian hanya karena kita mampu membangun Website kelas dunia, lantas secara latah kita mengklaim diri sebagai World Class University.

Oleh karena itu, sebelum kampus lain menertawai, atau bahkan calon mahasiswa yang ingin mendaftar ke kampus ini mengolok-olok klaim yang kita buat besar-besar di hampir setiap spanduk, billboard, iklan televisi, atau media lainnya, dan kita semakin tenggelam dalam kebanggaan semu ini, sebaiknya mari kita perhatikan fakta-fakta berikut ini;

Pertama, Webometrics bukanlah satu-satunya lembaga internasional pemeringkat universitas di dunia, bahkan, lembaga pemeringkat yang berbasis di spanyol dan baru memulai kegiatannya pada tahun 2004 ini, sesuai namanya web-ometrics, lebih menilai dari aspek akses publikasi ilmiah untuk meningkatkan kehadiran akademik di situs-situs web. Pemeringkatan didasarkan pada gabungan indikator yang memperhitungkan volume ataupun isi web, visibilitas, dan dampak dari publikasi web. Kedua, mari kita bandingkan dengan lembaga pemeringkat Times Higher Education Supplement (THES) dari Inggris, yang paling banyak dijadikan acuan, yang menilai berdasarkan empat faktor, yaitu; kualitas riset, terserapnya lulusan di dunia kerja, prestasi internasional, dan kualitas pengajaran. Dan peringkat Gunadarma menurut lembaga ini entah di urutan ke berapa? Ketiga, selain kedua lembaga tersebut, masih ada QS World University Ranking yang diterbitkan US Weekly dan Academic Ranking of World Universities (ARWU) yang digagas oleh Universitas Jiao Tong Shanghai yang merumuskan bobot peringkat lebih ketat.

Lalu, bagaimana menjembatani GAP-TECH ini?

Meminjam rumus 3T yang digunakan oleh Richard Florida dalam bukunya Who’s your city, yaitu; Talenta, Teknologi, dan Toleransi sebagai katalisator yang mampu menjadikan sektor industri kreatif menjadi lokomotif penarik gerbong ekonomi kreatif di beberapa kota-kota kreatif di dunia hingga menjadi motor penggerak perekonomian secara makro, saya juga ingin menawarkan sebuah pergeseran paradigma pembangunan dan pengembangan, dari sebelumnya IT-VERSITY (Information Technology+University: Universitas Berbasis IT) menjadi CREATIVERSITY (Creative+University: Universitas Berbasis Kreativitas).

Gelombang ekonomi ke-empat, ekonomi kreatif, bukan hanya terjadi di Inggris atau Amerika Serikat saja, akan tetapi sudah menjadi tren ekonomi selama beberapa tahun belakangan ini di Indonesia, atau bahkan kalau kita kembali membuka lembaran sejarah nusanatara, bangsa kita adalah bangsa berbudaya kreatif, coba saja perhatikan karya-karya insan kreatif nusantara yang sampai hari ini masih tegak berdiri dan masih bisa dinikmati oleh generasi selanjutnya, mulai dari tarian, kuliner, lagu, karya sastra, candi, patung, prasasti, dan produk-produk seni dan budaya lainnya.

Jadi, Teknologi, dalam hal ini ICT, hanyalah salah satu aspek saja dari rumus 3T yang akan menjadi katalisator pertumbuhan dan pembangunan ekonomi suatu kawasan. Dengan memosisikan dan memersiapkan diri sebagai universitas berbasis kreatifitas, di mana bakat-bakat (Talenta) unik yang dimiliki tiap mahasiswa yang ada di kampus ini dengan bantuan infrastruktur dan fasilitas serta sistem ICT (Teknologi) sebagai enabler, di tengah-tengah budaya inovatif yang menjadikan kesalahan adalah bagian dari proses pembelajaran dan penciptaan, alih-alih sebuah kegagalan (tingkat toleransi tinggi), mungkin GAP-TECH (jurang teknologi) yang sekarang ada akan berubah menjadi bukit-bukit baru, lalu menjadi kota-kota kreatif baru yang menjadikan dunia ini semakin mendatar sekaligus berbukit-bukit, semuanya; cara kita bekerja, belajar, bersosialisasi dan bermain tergantung di mana tempat kita tinggal seperti yang dijelaskan oleh Richard Florida.

Dari kantong-kantong kreatif inilah nantinya akan muncul sebuah kelas masyarakat menengah baru, yang dalam istilah David Brooks disebut generasi BOBO (Bourgeois Bohemian), atau Richard Florida biasa menyebutnya Kelas Kreatif, tetapi perkenankan saya menyebut generasi baru ini sebagai Artelectual Creativepreneur. Yang secara sederhana bisa didefinisikan sebagai kaum intelektual berjiwa seni dan kreatif yang mempunyai semangat dan mental seorang pengusaha.

Pertanyaan yang mungkin masih belum terjawab, yaitu, mengapa GAP-TECH ini bisa tercipta?

Apakah hal ini disebabkan oleh kegagalan pihak kampus mengakomodir aspirasi mahasiswa yang faktanya selama ini memang tidak pernah dilibatkan dalam setiap proses pengambilan keputusan dan kebijakan yang menyangkut kepentingan dan masa depan mahasiswa, karena tidak adanya lembaga, seperti BEM tingkat universitas atau senat mahasiswa maupun mekanisme yang benar-benar efektif yang memungkinkan mahasiswa menyampaikan gagasan, ide, keluhan, kritik, ataupun saran kepada otoritas kampus yang selalu menganggap dirinyalah yang paling tahu dan mengerti tentang apa yang dibutuhkan dan diinginkan oleh mahasiswa?

Atau GAP-TECH yang terjadi hanyalah sekadar konsekuensi logis dan implikasi langsung dari positioning strategy yang diterapkan kampus ini, yang semata-mata profit-oriented, dan tidak ingin kehilangan peluang untuk menampung sebanyak mungkin calon mahasiswa yang jumlahnya semakin membludak dari tahun ke tahun, tanpa perlu memperhitungkan daya dukung dan kapasistas sesungguhnya yang bisa diterima akal sehat?

Selama para calon mahasiswa baru bisa diiming-imingi laptop+handphone gratis (hanya jika membayar lunas tentunya), free wi-fi internet hotspot di setiap sudut kampus, meskipun setelah mereka masuk ternyata harus mampu bersabar dengan 50 orang mahasiswa perkelas di ruangan yang agak panas, namun mereka masih tetap mau kuliah di kampus ini, sepertinya hal-hal tersebut diatas bukanlah masalah yang terlalu serius, bukankah begitu, Bapak/Ibu Rektor yang terhormat?

Hartono. 19 April 2010.

MENCARI FIGUR PAHLAWAN: DARI PERSONAL SAMPAI NASIONAL

“Olahraga adalah perang tanpa menembakkan senjata” (tulis John Naisbitt dalam bukunya Mind Set!, 2007, mengutip pernyataan George Orwell) seraya mengingatkan kita “bahwa China akan mendominasi olahraga global sebelum mereka mendominasi perekonomian global-jika itu terwujud.” Lanjutnya. Prediksinya terbukti, China tercatat sebagai peraih medali emas terbanyak pada Olimpiade Beijing 2008 lalu sekaligus menjadi negara dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di dunia sampai hari ini.

Seperti halnya kepemimpinan, kepahlawanan juga memiliki nilai universal, nasional, sekaligus personal. Setiap orang adalah pemimpin, minimal pemimpin bagi dirinya sendiri. Setiap orang adalah pahlawan, minimal pahlawan bagi dirinya sendiri. Setiap negara-bangsa, setiap bidang kehidupan, setiap pribadi memiliki figur panutan dan pujaan yang dianggapnya sebagai pahlawan.

Begitupun generasi muda di era kontemporer yang mungkin saja menemukan figur heroik dalam diri seorang atlet, seniman, pengusaha, aktivis, atau mungkin ikon-ikon budaya pop dan lain sebagainya yang menjadi idola sekaligus panutan dalam hidupnya. Gejala tersebut, menurut penulis, jauh lebih baik-selama mengarah kepada hasil-hasil yang positif dan konstruktif-daripada terjebak pada romantisisme heroik semata yang berujung pada acara-acara peringatan seremonial dan atau wacana retorik belaka.

Menghargai jasa-jasa dan mendukung upaya para pahlawan era kontemporer yang berjuang demi mengharumkan nama negara-bangsa di arena pertandingan sebagai atlet, mendidik anak-anak suku pedalaman di pelosok nusantara sebagai aktivis pendidikan, menjaga kelestarian lingkungan melawan kesewenangan korporasi global sebagai aktivis lingkungan, membela hak-hak perempuan dan kaum minoritas dan pejuang-pejuang di bidang lainnya tidaklah kalah penting dengan mengenang jasa-jasa para pahlawan pendahulu-mulai dari pahlawan pergerakan nasional, pahlawan kemerdekaan, pahlawan revolusi sampai pahlawan reformasi-yang cita-cita dan perjuangannya dilanjutkan oleh para pahlawan kontemporer kita yang saya sebut di atas.

Ditengah tingginya apatisme publik terhadap para pemimpin kita-baik pemimpin politik, agama maupun bisnis-semoga momentum hari pahlawan yang berdekatan dengan berlangsungnya perhelatan olahraga regional dua tahunan Se-Asia Tenggara, SEA GAMES ke-26 ini, bisa memompa semangat juang para atlet kita di semua cabang olahraga untuk mempersembahkan prestasi terbaiknya bagi Indonesia. Terlepas dari segala kekurangan kita sebagai tuan rumah dan berbagai kontroversi serta kasus terkait proses penyelenggaraannya, kelak para atlet kita yang berprestasi akan dikenang abadi sebagai pahlawan sejati dalam memori kolektif masyarakat kita. Ayo! Ayo! Indonesia Bisa! Amin.