Pengembangan infrastruktur dan fasilitas ICT yang memadai, secara substansial tetap merupakan hanya sebagai enabler (pemberdaya), bukan merupakan tujuan penyelenggaraan pendidikan itu sendiri. Dan keberhasilan membangun infrastruktur dan fasilitas serta sistem pendidikan berbasis ICT yang diakui oleh dunia belum tentu berbanding lurus dengan kesuksesan menghasilkan lulusan perguruan tinggi yang mampu bersaing baik secara lokal, regional, maupun global.
Di samping itu, sampai saat ini saya belum menemukan hasil penelitian yang secara spesifik dan valid mampu membuktikan bahwa peningkatan fasilitas fisik dan non-fisik ICT bisa berdampak langsung terhadap peningkatan prestasi mahasiswa baik secara akademis maupun non-akademis.
Tetapi, mau tidak mau, suka tidak suka, diakui atau tidak, itulah yang terjadi di kampus kita tercinta ini, Universitas Gunadarma, hal ini tentu saja menjadi kegerahan, kegelisahan, sekaligus keprihatinan saya-mungkin juga beberapa mahasiswa lainnya dan juga dosen yang sepaham dengan saya-sebagai bagian dari keluarga besar civitas akademika Universitas Gunadarma tercinta ini.
Bahwa terbentuk GAP-TECH (Gap: jurang pemisah+Technology: teknologi), bukan GAPTEK (gagap teknologi), yang semakin lebar dan dalam sebagai dampak dari kemajuan di bidang pengembangan dan penerapan ICT, yang tidak diimbangi dengan pengembangan kualitas SDM yang mampu mengartikulasikan enabler tersebut untuk meningkatkan kompetensi, baik hardskill maupun softskill.
Di mana justru yang tercipta adalah jurang yang memisahkan antara keunggulan di bidang IT di satu sisi dan stagnasi di bidang Sumber Daya Manusia di sisi lain. Hal ini bisa dilihat dari fenomena masih banyaknya mahasiswa dan dosen yang belum memanfaatkan fasilitas ICT ini untuk meningkatkan prestasi akademisnya, atau setidaknya membantunya untuk menghasilkan karya-karya tulis maupun karya-karya kreatif lainnya yang berbasis IT.
Belum lagi masih banyak dosen yang menyampaikan kuliahnya atau mahasiswa yang menyampaikan presentasi makalahnya hanya dengan mengandalkan kapur tulis atau paling banter OHP, karena memang belum tersedia digital projector di setiap ruang kelas.
Keberhasilan Fakultas Sistem Informasi mendapat peringkat kedua berdasarkan pemeringkatan yang dilakukan PDAT (pusat data dan analisa tempo) pada tahun 2008 berdasarkan masing-masing fakultas di tiap PT baik swasta maupun negeri, hanya satu peringkat dibawah Universitas Bina Nusantara, memang patut diapreasi dan dibanggakan. Tambah lagi belum lama ini, Gunadarma berhasil meraih peringkat 5 secara nasional versi Webometrics Ranking of World Universities dan Peringkat 1.025 dunia. Akan tetapi, janganlah kemudian hanya karena kita mampu membangun Website kelas dunia, lantas secara latah kita mengklaim diri sebagai World Class University.
Oleh karena itu, sebelum kampus lain menertawai, atau bahkan calon mahasiswa yang ingin mendaftar ke kampus ini mengolok-olok klaim yang kita buat besar-besar di hampir setiap spanduk, billboard, iklan televisi, atau media lainnya, dan kita semakin tenggelam dalam kebanggaan semu ini, sebaiknya mari kita perhatikan fakta-fakta berikut ini;
Pertama, Webometrics bukanlah satu-satunya lembaga internasional pemeringkat universitas di dunia, bahkan, lembaga pemeringkat yang berbasis di spanyol dan baru memulai kegiatannya pada tahun 2004 ini, sesuai namanya web-ometrics, lebih menilai dari aspek akses publikasi ilmiah untuk meningkatkan kehadiran akademik di situs-situs web. Pemeringkatan didasarkan pada gabungan indikator yang memperhitungkan volume ataupun isi web, visibilitas, dan dampak dari publikasi web. Kedua, mari kita bandingkan dengan lembaga pemeringkat Times Higher Education Supplement (THES) dari Inggris, yang paling banyak dijadikan acuan, yang menilai berdasarkan empat faktor, yaitu; kualitas riset, terserapnya lulusan di dunia kerja, prestasi internasional, dan kualitas pengajaran. Dan peringkat Gunadarma menurut lembaga ini entah di urutan ke berapa? Ketiga, selain kedua lembaga tersebut, masih ada QS World University Ranking yang diterbitkan US Weekly dan Academic Ranking of World Universities (ARWU) yang digagas oleh Universitas Jiao Tong Shanghai yang merumuskan bobot peringkat lebih ketat.
Lalu, bagaimana menjembatani GAP-TECH ini?
Meminjam rumus 3T yang digunakan oleh Richard Florida dalam bukunya Who’s your city, yaitu; Talenta, Teknologi, dan Toleransi sebagai katalisator yang mampu menjadikan sektor industri kreatif menjadi lokomotif penarik gerbong ekonomi kreatif di beberapa kota-kota kreatif di dunia hingga menjadi motor penggerak perekonomian secara makro, saya juga ingin menawarkan sebuah pergeseran paradigma pembangunan dan pengembangan, dari sebelumnya IT-VERSITY (Information Technology+University: Universitas Berbasis IT) menjadi CREATIVERSITY (Creative+University: Universitas Berbasis Kreativitas).
Gelombang ekonomi ke-empat, ekonomi kreatif, bukan hanya terjadi di Inggris atau Amerika Serikat saja, akan tetapi sudah menjadi tren ekonomi selama beberapa tahun belakangan ini di Indonesia, atau bahkan kalau kita kembali membuka lembaran sejarah nusanatara, bangsa kita adalah bangsa berbudaya kreatif, coba saja perhatikan karya-karya insan kreatif nusantara yang sampai hari ini masih tegak berdiri dan masih bisa dinikmati oleh generasi selanjutnya, mulai dari tarian, kuliner, lagu, karya sastra, candi, patung, prasasti, dan produk-produk seni dan budaya lainnya.
Jadi, Teknologi, dalam hal ini ICT, hanyalah salah satu aspek saja dari rumus 3T yang akan menjadi katalisator pertumbuhan dan pembangunan ekonomi suatu kawasan. Dengan memosisikan dan memersiapkan diri sebagai universitas berbasis kreatifitas, di mana bakat-bakat (Talenta) unik yang dimiliki tiap mahasiswa yang ada di kampus ini dengan bantuan infrastruktur dan fasilitas serta sistem ICT (Teknologi) sebagai enabler, di tengah-tengah budaya inovatif yang menjadikan kesalahan adalah bagian dari proses pembelajaran dan penciptaan, alih-alih sebuah kegagalan (tingkat toleransi tinggi), mungkin GAP-TECH (jurang teknologi) yang sekarang ada akan berubah menjadi bukit-bukit baru, lalu menjadi kota-kota kreatif baru yang menjadikan dunia ini semakin mendatar sekaligus berbukit-bukit, semuanya; cara kita bekerja, belajar, bersosialisasi dan bermain tergantung di mana tempat kita tinggal seperti yang dijelaskan oleh Richard Florida.
Dari kantong-kantong kreatif inilah nantinya akan muncul sebuah kelas masyarakat menengah baru, yang dalam istilah David Brooks disebut generasi BOBO (Bourgeois Bohemian), atau Richard Florida biasa menyebutnya Kelas Kreatif, tetapi perkenankan saya menyebut generasi baru ini sebagai Artelectual Creativepreneur. Yang secara sederhana bisa didefinisikan sebagai kaum intelektual berjiwa seni dan kreatif yang mempunyai semangat dan mental seorang pengusaha.
Pertanyaan yang mungkin masih belum terjawab, yaitu, mengapa GAP-TECH ini bisa tercipta?
Apakah hal ini disebabkan oleh kegagalan pihak kampus mengakomodir aspirasi mahasiswa yang faktanya selama ini memang tidak pernah dilibatkan dalam setiap proses pengambilan keputusan dan kebijakan yang menyangkut kepentingan dan masa depan mahasiswa, karena tidak adanya lembaga, seperti BEM tingkat universitas atau senat mahasiswa maupun mekanisme yang benar-benar efektif yang memungkinkan mahasiswa menyampaikan gagasan, ide, keluhan, kritik, ataupun saran kepada otoritas kampus yang selalu menganggap dirinyalah yang paling tahu dan mengerti tentang apa yang dibutuhkan dan diinginkan oleh mahasiswa?
Atau GAP-TECH yang terjadi hanyalah sekadar konsekuensi logis dan implikasi langsung dari positioning strategy yang diterapkan kampus ini, yang semata-mata profit-oriented, dan tidak ingin kehilangan peluang untuk menampung sebanyak mungkin calon mahasiswa yang jumlahnya semakin membludak dari tahun ke tahun, tanpa perlu memperhitungkan daya dukung dan kapasistas sesungguhnya yang bisa diterima akal sehat?
Selama para calon mahasiswa baru bisa diiming-imingi laptop+handphone gratis (hanya jika membayar lunas tentunya), free wi-fi internet hotspot di setiap sudut kampus, meskipun setelah mereka masuk ternyata harus mampu bersabar dengan 50 orang mahasiswa perkelas di ruangan yang agak panas, namun mereka masih tetap mau kuliah di kampus ini, sepertinya hal-hal tersebut diatas bukanlah masalah yang terlalu serius, bukankah begitu, Bapak/Ibu Rektor yang terhormat?
Hartono. 19 April 2010.
Kamis, 10 November 2011
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar